Powered by WorkMe Logo

Menjadi ayah sekaligus profesional bukanlah peran yang selalu mudah dijalani. Di tengah target pekerjaan dan tanggung jawab keluarga, seorang ayah mungkin perlu membagi waktu, energi, dan perhatian untuk berbagai kebutuhan. Karena itu, kesehatan mental ayah bekerja menjadi salah satu aspek wellbeing karyawan yang penting untuk diperhatikan. Momentum Hari Ayah dapat dimanfaatkan perusahaan bukan hanya untuk memberikan apresiasi, tetapi juga untuk membangun kesadaran bahwa ayah, seperti karyawan lainnya, membutuhkan ruang untuk beristirahat, berbagi cerita, dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi tantangan.


Mengapa Kesehatan Mental Ayah Bekerja Perlu Diperhatikan?

Tuntutan pekerjaan dan keluarga dapat menjadi tantangan ketika keduanya membutuhkan perhatian dalam waktu bersamaan. Sebagian ayah mungkin merasa perlu selalu produktif di kantor sekaligus tetap hadir bagi keluarga di rumah. Jika tekanan berlangsung terus-menerus tanpa kesempatan pemulihan yang memadai, stres dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan keseharian seseorang. Namun, pengalaman setiap ayah tentu berbeda. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan karyawan membicarakan kebutuhan dan mencari dukungan tanpa merasa dihakimi.


Dukungan terhadap kesehatan mental tidak harus dimulai dari program besar. Langkah sederhana untuk membuka percakapan dan meningkatkan akses terhadap layanan wellbeing dapat menjadi awal yang bermakna.


4 Ide Aktivasi Hari Ayah yang Lebih Bermakna di Perusahaan


1. Edukasi Stres dan Kesehatan Mental

Perusahaan dapat mengadakan seminar atau sesi diskusi bersama psikolog untuk membahas stres kerja, tantangan menjalani peran sebagai ayah, dan cara mengenali kebutuhan diri. Edukasi ini membantu karyawan memahami bahwa mencari bantuan merupakan langkah yang wajar ketika menghadapi tekanan.


2. Fatherhood Reflection Session

Sediakan ruang refleksi melalui journaling atau pertanyaan pemantik, seperti apa arti menjadi ayah bagi diri sendiri dan bagaimana menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Aktivitas ini sebaiknya dilakukan secara sukarela agar setiap peserta dapat menentukan batas kenyamanannya.


3. Fatherhood Support Group

Diskusi kelompok kecil dapat menjadi kesempatan bagi karyawan untuk berbagi pengalaman dan belajar dari perspektif satu sama lain. Agar ruang ini terasa aman, perusahaan perlu menetapkan aturan privasi, menghindari tekanan untuk bercerita, dan memastikan peserta tidak dihakimi atas pengalaman pribadinya.


4. Pengenalan Employee Assistance Program (EAP)

Hari Ayah juga dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan Employee Assistance Program (EAP). Program ini dapat menyediakan akses terhadap dukungan profesional bagi karyawan yang menghadapi tantangan personal maupun pekerjaan, sesuai cakupan layanan yang tersedia. HR dapat menjelaskan jenis layanan, cara mengaksesnya, dan ketentuan kerahasiaan secara transparan agar karyawan memahami pilihan dukungan yang tersedia.


Peran HR dalam Membangun Budaya Kerja yang Suportif

Aktivasi Hari Ayah akan lebih bermakna jika diikuti komitmen jangka panjang. HR dan tim People & Culture dapat melengkapinya dengan kebijakan kerja yang mendukung keseimbangan kehidupan pribadi, komunikasi yang terbuka, serta akses terhadap program wellbeing yang relevan.


Dengan pendekatan tersebut, perayaan Hari Ayah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang lebih peduli terhadap kebutuhan karyawan.


WorkMe by Ibunda.id mendukung perusahaan dalam merancang program wellbeing, edukasi kesehatan mental, dan Employee Assistance Program sesuai kebutuhan organisasi.


Ingin menghadirkan aktivasi Hari Ayah yang lebih bermakna sekaligus memperkuat dukungan wellbeing karyawan? Hubungi WorkMe by Ibunda.id melalui workme.id/id/contact-us untuk mendiskusikan program yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Kontak Kami