Powered by WorkMe Logo

Menjadi ayah sekaligus profesional sering kali berarti menjalani dua peran penting dalam waktu bersamaan. Di tempat kerja, ada target yang harus dicapai, tanggung jawab yang perlu diselesaikan, dan ekspektasi untuk terus produktif. Di rumah, ada keluarga yang membutuhkan waktu, perhatian, dan kehadiran emosional. Di tengah tuntutan tersebut, burnout pada ayah bekerja menjadi isu yang penting untuk dibicarakan. Bukan karena setiap ayah pasti mengalaminya, melainkan karena tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan emosional seseorang.


Ketika Tuntutan Pekerjaan dan Keluarga Bertemu

Bagi sebagian ayah, tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga dapat berjalan beriringan dengan keinginan untuk tetap hadir dalam tumbuh kembang anak. Namun, ketika pekerjaan menyita banyak waktu dan energi, keseimbangan antara kedua peran tersebut bisa terasa semakin sulit.


Ada kalanya seseorang tetap menyelesaikan pekerjaan, menghadiri rapat, dan memenuhi tanggung jawabnya, tetapi merasa kelelahan secara emosional. Ada pula yang kesulitan menikmati waktu bersama keluarga karena pikirannya masih tertuju pada pekerjaan. Jika tekanan berlangsung berkepanjangan, kondisi ini perlu diperhatikan. Burnout berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Kondisinya dapat ditandai dengan kelelahan, meningkatnya jarak emosional terhadap pekerjaan, atau menurunnya perasaan mampu menjalankan tanggung jawab profesional.


Mengenali Stres Bukan Berarti Tidak Mampu

Salah satu tantangan dalam menjaga kesehatan mental adalah anggapan bahwa seorang ayah harus selalu kuat dan mampu menyelesaikan semuanya sendiri. Akibatnya, rasa lelah atau kesulitan emosional terkadang disimpan tanpa mencari bantuan. Padahal, mengenali stres bukanlah tanda kelemahan. Justru, kesadaran terhadap kondisi diri dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan dan menentukan dukungan yang diperlukan.


Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain mengenali batas kemampuan, menyediakan waktu istirahat, membangun komunikasi terbuka dengan pasangan, dan mencari bantuan profesional ketika tekanan mulai mengganggu keseharian. Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian. Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan bercerita juga merupakan bagian dari menjaga wellbeing.


Peran Perusahaan dalam Mendukung Ayah Bekerja

Menjaga kesehatan mental karyawan bukan hanya tanggung jawab individu. Perusahaan juga dapat berperan melalui budaya kerja yang suportif, komunikasi yang terbuka, serta akses terhadap layanan wellbeing. Salah satu bentuk dukungan yang dapat dipertimbangkan adalah Employee Assistance Program (EAP). Melalui EAP, perusahaan dapat menyediakan akses terhadap dukungan profesional bagi karyawan yang menghadapi tantangan personal maupun pekerjaan, sesuai cakupan layanan yang tersedia.


WorkMe by Ibunda.id mendukung perusahaan dalam menghadirkan program wellbeing yang membantu karyawan memperoleh ruang untuk mencari dukungan ketika dibutuhkan. Pada momentum Hari Ayah, penting untuk mengingat bahwa ayah tidak harus selalu terlihat kuat setiap saat. Mereka juga berhak mendapatkan waktu untuk beristirahat, ruang untuk bercerita, dan dukungan untuk menjaga kesejahteraan diri.


Ingin menghadirkan dukungan wellbeing yang lebih bermakna bagi karyawan di perusahaan Anda? Kenali program Employee Assistance Program bersama WorkMe by Ibunda.id melalui workme.id/id/contact-us.

Kontak Kami