Powered by WorkMe Logo

Mengapa Employee Wellbeing Tidak Cukup dengan Seminar?

Ketika membicarakan employee wellbeing, seminar dan workshop sering menjadi pilihan pertama perusahaan. Mengundang psikolog, membahas kesehatan mental, dan memberikan edukasi kepada karyawan merupakan langkah yang baik untuk meningkatkan awareness tentang pentingnya kesejahteraan di tempat kerja.


Melalui seminar, karyawan dapat belajar mengenali stres, memahami burnout, mengembangkan strategi menghadapi tekanan, hingga memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan personal dan pekerjaan. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan: employee wellbeing tidak berhenti ketika seminar selesai.


Setelah kembali ke rutinitas kerja, karyawan tetap dapat menghadapi workload yang tinggi, tekanan dari pekerjaan, konflik interpersonal, atau tantangan personal. Insight yang diperoleh dari sesi edukasi mungkin membantu, tetapi sebagian karyawan juga membutuhkan ruang untuk berbicara, melakukan refleksi, atau mendapatkan dukungan profesional. Perusahaan perlu melihat employee wellbeing program sebagai bagian dari sistem dukungan yang lebih luas, bukan hanya rangkaian aktivitas yang dilakukan sesekali.


1. Mengapa Perusahaan Membutuhkan Support System di Tempat Kerja?

Setiap karyawan memiliki pengalaman, tantangan, dan kebutuhan dukungan yang berbeda. Tidak semua orang merasa nyaman membicarakan masalahnya kepada atasan atau tim HR. Sebagian karyawan mungkin khawatir dianggap tidak profesional. Sebagian lainnya merasa masalah personal sebaiknya tidak dibawa ke lingkungan kerja. Ada pula karyawan yang membutuhkan bantuan, tetapi belum mengetahui layanan yang tersedia atau bagaimana cara mengaksesnya.


Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun support system di tempat kerja yang jelas dan mudah diakses. Support system dapat membantu karyawan mengetahui ke mana mereka dapat mencari informasi, berbicara mengenai tantangan yang dihadapi, atau memperoleh bantuan profesional ketika dibutuhkan. Bagi HR, membangun sistem dukungan bukan berarti harus menyelesaikan setiap masalah karyawan secara langsung. Sebaliknya, perusahaan dapat menyediakan jalur dukungan yang sesuai, menjelaskan cara mengaksesnya, dan memastikan karyawan memahami ketentuan privasi yang berlaku. Dengan demikian, employee wellbeing dapat menjadi bagian dari pengalaman kerja sehari-hari, bukan hanya agenda dalam kalender perusahaan.


2. Seminar dan Workshop Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi

Seminar dan workshop tetap memiliki peran penting dalam strategi wellbeing perusahaan. Keduanya dapat menjadi titik awal untuk meningkatkan pemahaman karyawan tentang kesehatan mental dan kesejahteraan secara umum. Misalnya, seminar tentang stress management dapat membantu karyawan mengenali pemicu stres dan mempelajari strategi menghadapinya. Sementara itu, workshop komunikasi dapat memberikan kesempatan bagi karyawan untuk mempelajari cara membangun interaksi yang lebih efektif di tempat kerja.


Namun, edukasi perlu diikuti dengan akses terhadap dukungan yang relevan. Setelah mengikuti seminar tentang burnout, misalnya, karyawan mungkin menyadari bahwa tekanan yang dialaminya membutuhkan perhatian lebih lanjut. Pertanyaan berikutnya adalah: ke mana mereka dapat mencari bantuan? Perusahaan dapat melengkapi seminar dan workshop dengan beberapa bentuk dukungan berikut:

  • Counseling: memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berbicara dengan profesional sesuai kebutuhan dan layanan yang tersedia.
  • Employee Assistance Program (EAP): menyediakan akses terhadap dukungan bagi karyawan melalui program yang dirancang sesuai cakupan layanan perusahaan.
  • Mental health assessment: membantu memberikan gambaran awal mengenai kondisi atau kebutuhan dukungan kesehatan mental, sesuai metode dan layanan yang digunakan.
  • Wellbeing activities: menghadirkan aktivitas yang mendorong refleksi, relaksasi, interaksi sosial, dan pengalaman wellbeing yang lebih beragam.

Ketika berbagai pendekatan ini dirancang secara saling melengkapi, perusahaan dapat menghadirkan pengalaman wellbeing yang lebih beragam dan relevan bagi karyawan.


3. Alternatif Wellbeing Activities agar Program Lebih Menarik

Program wellbeing tidak harus selalu berbentuk presentasi atau sesi edukasi formal. Perusahaan juga dapat mempertimbangkan aktivitas yang lebih interaktif, reflektif, dan partisipatif. Tujuannya bukan sekadar membuat program terasa menyenangkan, melainkan memberikan pilihan cara bagi karyawan untuk terlibat dalam kegiatan wellbeing. Berikut beberapa aktivitas yang dapat dipertimbangkan HR:

Journaling

Journaling memberikan ruang bagi karyawan untuk menuliskan pikiran, perasaan, atau pengalaman mereka. Aktivitas ini dapat menjadi sarana refleksi personal dan membantu peserta mengidentifikasi hal-hal yang sedang mereka hadapi.

Meditation

Meditasi dapat menjadi bagian dari aktivitas wellbeing untuk melatih perhatian dan menyediakan jeda dari rutinitas kerja. Sesi dapat dirancang dengan durasi dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi peserta.

Deep Talks

Deep talks menciptakan kesempatan untuk melakukan percakapan yang lebih bermakna dalam suasana yang terarah. Aktivitas ini dapat membantu membangun koneksi antarpeserta, selama tetap memperhatikan batasan personal dan kenyamanan setiap individu.

Yoga

Yoga dapat menjadi pilihan aktivitas yang menggabungkan gerakan tubuh, pernapasan, dan perhatian terhadap kondisi diri. Perusahaan perlu memastikan aktivitas disesuaikan dengan kemampuan peserta dan dipandu oleh fasilitator yang kompeten.

Support Group

Support group menyediakan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mendengarkan perspektif orang lain dalam suasana yang terfasilitasi. Kejelasan aturan partisipasi, privasi, dan batasan diskusi menjadi hal penting dalam pelaksanaannya.

Art Therapy

Aktivitas berbasis seni dapat memberikan alternatif cara untuk berekspresi dan berefleksi. Jika program secara khusus disebut sebagai art therapy, pelaksanaannya perlu melibatkan profesional yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan layanan tersebut. Aktivitas-aktivitas ini tidak harus menggantikan seminar atau pelatihan. Sebaliknya, perusahaan dapat mengombinasikannya untuk memberikan pilihan pengalaman wellbeing yang lebih seimbang.


4. Bagaimana HR Membangun Employee Wellbeing Program yang Berkelanjutan?

Membangun program wellbeing yang berkelanjutan tidak selalu berarti perusahaan harus menjalankan banyak aktivitas sekaligus. Hal yang lebih penting adalah memastikan program memiliki tujuan yang jelas, sesuai dengan kebutuhan karyawan, dan dapat diakses ketika dibutuhkan. HR dapat memulai melalui langkah-langkah berikut:

1. Pahami kebutuhan karyawan

Gunakan survei, diskusi, atau mekanisme umpan balik yang sesuai untuk mengetahui tantangan yang dihadapi karyawan dan jenis dukungan yang mereka butuhkan.

2. Kombinasikan edukasi dan akses terhadap dukungan

Seminar dapat meningkatkan awareness, sedangkan konseling dan EAP dapat menjadi jalur dukungan lebih lanjut sesuai kebutuhan karyawan. Wellbeing activities juga dapat melengkapi pengalaman program.

3. Berikan pilihan aktivitas yang beragam

Tidak semua karyawan memiliki preferensi yang sama. Sebagian mungkin tertarik pada sesi edukasi, sementara yang lain lebih nyaman mengikuti journaling, yoga, meditasi, atau aktivitas kelompok yang terfasilitasi.

4. Pastikan program mudah diakses

Komunikasikan layanan yang tersedia, cara mengaksesnya, dan siapa yang dapat dihubungi. Jelaskan pula kebijakan privasi serta kerahasiaan yang berlaku agar karyawan memahami bagaimana dukungan diberikan.

5. Evaluasi dan sesuaikan program secara berkala

Tinjau tingkat partisipasi, masukan peserta, dan indikator lain yang relevan dengan tujuan program. Hasil evaluasi dapat membantu HR menentukan aktivitas yang perlu dipertahankan, disesuaikan, atau dikembangkan. Dengan pendekatan ini, employee wellbeing dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan karyawan yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan tahunan.


5. WorkMe by Ibunda.id: Mendukung Program Wellbeing yang Lebih Beragam

Setiap perusahaan memiliki kebutuhan dan tantangan yang berbeda. Karena itu, program wellbeing perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik karyawan, tujuan organisasi, dan bentuk dukungan yang ingin disediakan. WorkMe by Ibunda.id membantu perusahaan mengeksplorasi program wellbeing sesuai kebutuhan organisasi, mulai dari seminar dan training, counseling, Employee Assistance Program (EAP), mental health assessment, hingga berbagai wellbeing activities.


Pilihan aktivitas dapat mencakup journaling, meditation, deep talks, yoga, support group, dan kegiatan berbasis seni sesuai bentuk program serta kebutuhan peserta. Dengan pilihan program yang lebih beragam, perusahaan dapat mengembangkan pendekatan wellbeing yang tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga mempertimbangkan akses terhadap dukungan dan pengalaman karyawan. Pada akhirnya, employee wellbeing bukan tentang membuat karyawan merasa lebih baik selama satu hari, melainkan membangun lingkungan kerja yang menyediakan dukungan ketika mereka membutuhkannya.


Saatnya Membangun Support System untuk Karyawan

Seminar dan workshop tetap menjadi bagian penting dari employee wellbeing. Namun, program akan lebih komprehensif ketika edukasi dilengkapi dengan akses terhadap dukungan profesional dan aktivitas yang relevan dengan kebutuhan karyawan. Jika perusahaan Anda ingin mengembangkan program wellbeing yang lebih beragam dan berkelanjutan, WorkMe by Ibunda.id siap membantu mendiskusikan pilihan program yang sesuai. Hubungi WorkMe by Ibunda.id untuk mengeksplorasi kebutuhan wellbeing perusahaan Anda.

📩 Email: helloworkme@ibunda.id

📞 Telepon: +62 856-7774-365 (Viscal)

🌐 Website: https://workme.id/

Kontak Kami