Sisa Budget 2026: Event atau Program Employee Wellbeing?
Memasuki akhir tahun, HR biasanya mulai mengevaluasi penggunaan budget sekaligus menyusun prioritas untuk tahun berikutnya. Salah satu pertanyaannya: apakah sisa budget 2026 sebaiknya digunakan untuk satu event, atau dialokasikan ke program employee wellbeing yang lebih berkelanjutan?
Pertanyaan ini penting karena wellbeing bukan sekadar aktivitas tambahan bagi karyawan. Data Gallup 2026 menunjukkan hanya 27% karyawan di Indonesia yang tergolong engaged, sementara rata-rata Asia Tenggara berada di 25% dan global 20%. Artinya, akhir tahun dapat menjadi momentum untuk bukan hanya memberikan apresiasi, tetapi juga memahami kebutuhan karyawan dengan lebih serius.
Event dan Program: Apa Bedanya?
Event wellbeing biasanya bersifat satu kali dan memiliki tujuan yang spesifik. Contohnya:
- Mental health talk
- Art activity
- Mindfulness session
- Wellbeing gathering
- Journaling & reflection
- Yoga atau relaxation session
Format ini cocok ketika perusahaan ingin menciptakan employee experience dalam waktu relatif singkat. Sementara itu, program employee wellbeing memiliki pendekatan yang lebih berkelanjutan. Misalnya kombinasi edukasi kesehatan mental, counseling, psychological support, wellbeing activities, hingga employee feedback. Jadi, pertanyaannya bukan sekadar โevent atau program?โ, tetapi:
Apa kebutuhan karyawan dan business objective yang ingin dicapai perusahaan?
Kapan Sisa Budget Lebih Tepat untuk Event?
Event dapat menjadi pilihan jika perusahaan ingin:
1. Memberikan meaningful year-end experience
Akhir tahun bisa menjadi kesempatan untuk memberikan ruang bagi karyawan untuk berhenti sejenak setelah melewati periode kerja yang panjang.
2. Meningkatkan engagement
Aktivitas yang interaktif dan relevan dapat menciptakan kesempatan bagi karyawan untuk terhubung dengan rekan kerja di luar rutinitas pekerjaan.
3. Melakukan wellbeing check-in
Event juga dapat dirancang bukan sekadar hiburan. Misalnya, dimulai dengan mental health check-in, dilanjutkan reflection session, lalu aktivitas yang lebih ringan. Namun, event memiliki keterbatasan: impact-nya dapat berhenti ketika acaranya selesai jika tidak ada dukungan atau tindak lanjut setelahnya.
Kapan Lebih Baik Memilih Program Employee Wellbeing?
Program lebih tepat ketika perusahaan ingin membangun support system, bukan hanya membuat satu aktivitas. WHO mencatat bahwa sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun secara global akibat depresi dan kecemasan, dengan estimasi kerugian produktivitas mencapai US$1 triliun per tahun. WHO juga menekankan pentingnya kombinasi pencegahan, promosi kesehatan mental, dan dukungan bagi pekerja. Program dapat menjadi pilihan ketika perusahaan ingin:
- menyediakan akses dukungan psikologis;
- meningkatkan awareness tentang kesehatan mental;
- membantu karyawan mengenali stres dan burnout;
- menyediakan ruang untuk mencari bantuan;
- mendapatkan data dan feedback mengenai kebutuhan wellbeing;
- membangun fondasi program wellbeing untuk 2027.
Dengan pendekatan ini, budget akhir tahun tidak hanya menghasilkan satu kegiatan, tetapi juga dapat menjadi learning investment untuk strategi berikutnya.
Jangan Terjebak pada โSemakin Banyak Aktivitas, Semakin Baikโ
Program wellbeing yang banyak belum tentu efektif. Survei 2026 dari Wellhub yang melibatkan lebih dari 5.000 karyawan di 10 pasar menunjukkan hanya 29% responden menilai program wellness perusahaan mereka baik, turun dari 41% setahun sebelumnya. Bahkan, hanya 17% yang sangat setuju bahwa wellbeing benar-benar menjadi bagian dari budaya perusahaan.
Data ini menunjukkan satu hal penting: memiliki program tidak sama dengan memenuhi kebutuhan karyawan.
Karena itu, HR perlu melihat tiga hal: Relevance โ Participation โ Follow-up
Apakah program relevan dengan kebutuhan karyawan? Apakah mereka mau menggunakannya? Dan apa yang dilakukan perusahaan setelah mendapatkan feedback?
Cara Memilih: Event atau Program?
Jika perusahaan memiliki budget yang cukup fleksibel, pendekatan hybrid justru dapat menjadi pilihan paling strategis.
Contoh: Ubah Sisa Budget Menjadi Wellbeing Activation
Misalnya perusahaan memiliki sisa budget HR di Q4.
Alih-alih menggunakannya hanya untuk satu gathering, perusahaan dapat membuat rangkaian:
Wellbeing Check-In
Mental health check-in + psikoedukasi + reflection session.
โ
Wellbeing Experience
Mindfulness, art activity, journaling, atau aktivitas relaksasi.
โ
Professional Support
Akses counseling atau psychological support bagi karyawan yang membutuhkan.
โ
Employee Feedback
Mengukur participation, satisfaction, relevansi topik, dan kebutuhan lanjutan.
Dengan format ini, satu aktivasi akhir tahun dapat menghasilkan tiga output sekaligus: employee experience, psychological support, dan insight untuk perencanaan 2027.
Jangan Hanya Menghabiskan Budget, Ukur Value-nya
Gallup mencatat bahwa burnout-related turnover dan lost productivity diperkirakan menimbulkan biaya US$322 miliar per tahun secara global. Penelitian Gallup juga menunjukkan wellbeing berkaitan dengan produktivitas, absenteeism, performance, engagement, dan turnover.
Karena itu, evaluasi program tidak cukup berhenti pada: โBudget sudah terserap.โ
HR perlu bertanya:
- Berapa karyawan yang berpartisipasi?
- Seberapa relevan aktivitas bagi mereka?
- Apa feedback yang paling banyak muncul?
- Apakah ada kebutuhan dukungan lanjutan?
- Program apa yang perlu diteruskan atau diperbaiki pada 2027?
Jadi, Event atau Program?
Jawabannya kembali pada tujuan.
Jika perusahaan membutuhkan momentum, engagement, dan meaningful year-end experience, event dapat menjadi pilihan tepat.
Namun jika perusahaan ingin membangun akses dukungan, memahami kebutuhan karyawan, dan memiliki fondasi wellbeing untuk 2027, program employee wellbeing memberikan value yang lebih panjang. Dan jika budget memungkinkan, gabungkan keduanya: gunakan event sebagai pintu masuk, lalu lanjutkan dengan dukungan yang lebih berkelanjutan.
Dengan begitu, sisa budget 2026 tidak sekadar menjadi anggaran yang terserap sebelum tutup buku, tetapi menjadi investasi yang memberikan pengalaman bagi karyawan sekaligus insight bagi perusahaan.
Bangun Employee Wellbeing yang Lebih Strategis bersama WorkMe
WorkMe by Ibunda.id membantu perusahaan menghadirkan program wellbeing melalui mental health education, psychological support dan counseling, serta berbagai wellbeing activities yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan karyawan.
Pelajari lebih lanjut tentang WorkMe atau hubungi tim WorkMe.