Employee Wellbeing Tidak Harus Dimulai dari Budget Besar
Ketika HR mulai menyusun budget employee wellbeing, pertanyaan yang sering muncul adalah: โBerapa biaya program wellbeing yang ideal?โ
Jawabannya tidak bisa disamaratakan. Jumlah karyawan, kebutuhan wellbeing, jenis program, durasi, keterlibatan profesional, lokasi, hingga kebutuhan evaluasi dapat memengaruhi biaya. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat bukan mencari satu angka ideal, tetapi menentukan cakupan program berdasarkan kebutuhan dan kemampuan budget perusahaan.
Data Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 menunjukkan bahwa 27% karyawan di Indonesia tergolong engaged, sementara 68% not engaged dan 5% actively disengaged. Angka engagement Indonesia memang lebih tinggi daripada rata-rata global sebesar 20%, tetapi masih menunjukkan ruang yang besar bagi perusahaan untuk memperkuat employee experience dan wellbeing.
WHO juga memperkirakan sekitar 12 miliar hari kerja hilang setiap tahun secara global akibat depresi dan kecemasan, dengan kerugian produktivitas sekitar US$1 triliun per tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa employee wellbeing layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi people management, bukan hanya aktivitas tambahan.
Bagaimana Menentukan Budget Employee Wellbeing?
Sebelum memilih paket, HR sebaiknya mempertimbangkan lima hal:
- Jumlah karyawan yang menjadi target program.
- Kebutuhan wellbeing berdasarkan employee survey atau data internal.
- Objective program, misalnya awareness, engagement, psychological support, atau retention.
- Frekuensi program, apakah one-time activation atau berkelanjutan.
- Measurement, seperti participation, satisfaction, feedback, atau utilization.
Dengan dasar tersebut, HR dapat memilih cakupan program yang paling sesuai.
1. Starter Package: Untuk Memulai Employee Wellbeing
Cocok untuk: perusahaan yang baru mulai membangun program wellbeing atau memiliki budget terbatas untuk aktivasi.
Komponen:
- Mental Health Talk
- Reflection Session
- Wellbeing Activity
Contoh rangkaian
Program dapat dimulai dengan talk mengenai kesehatan mental atau stres di tempat kerja. Setelah itu, karyawan diajak melakukan reflection session untuk mengevaluasi pengalaman dan tantangan yang mereka hadapi. Aktivitas dapat ditutup dengan kegiatan wellbeing yang lebih ringan, seperti journaling, mindfulness, creative activity, atau relaxation session.
Objective
Paket Starter berfokus pada:
Awareness โ Reflection โ Employee Experience
Paket ini cocok jika perusahaan ingin memperkenalkan wellbeing tanpa langsung membangun program yang kompleks.
Namun, HR tetap perlu melakukan evaluasi sederhana setelah kegiatan untuk mengetahui apakah topik dan aktivitas yang diberikan relevan bagi karyawan.
2. Growth Package: Untuk Membangun Engagement
Cocok untuk: perusahaan yang sudah pernah melakukan aktivitas wellbeing dan ingin meningkatkan kedalaman program.
Komponen:
- Mental Health Education
- Employee Check-In
- Wellbeing Activity
- Support Group
Pada tahap ini, program tidak hanya memberikan edukasi, tetapi mulai memberikan ruang untuk memahami kondisi dan kebutuhan karyawan.
Contoh rangkaian
Mental Health Education
Membahas topik seperti stress management, burnout, emotional regulation, atau work-life balance.
Employee Check-In
Mengumpulkan feedback atau melakukan check-in mengenai kondisi dan kebutuhan wellbeing.
Wellbeing Activity
Menghadirkan aktivitas seperti mindfulness, journaling, art activity, yoga, atau relaxation.
Support Group
Menyediakan ruang sharing yang terstruktur agar karyawan dapat berbagi pengalaman dan saling mendengarkan.
Objective
Fokus Growth Package adalah:
Awareness โ Participation โ Connection โ Support
Pendekatan ini mulai membentuk wellbeing sebagai pengalaman yang lebih terintegrasi, bukan hanya satu acara.
3. Comprehensive Package: Untuk Program Wellbeing yang Lebih Terintegrasi
Cocok untuk: perusahaan yang ingin menjadikan employee wellbeing sebagai bagian dari strategi people & culture.
Komponen:
- Mental Health Education
- Psychological Support
- Counseling
- Wellbeing Activities
- Employee Feedback
Paket ini menggabungkan tiga lapisan penting:
Education
Membantu karyawan memahami isu wellbeing.
Experience
Memberikan ruang untuk melakukan aktivitas yang mendukung wellbeing.
Support
Menyediakan akses kepada dukungan profesional ketika karyawan membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Objective
Fokus Comprehensive Package adalah:
Awareness โ Engagement โ Professional Support โ Evaluation
Employee feedback menjadi bagian penting karena perusahaan dapat menggunakan hasil program untuk menentukan kebutuhan wellbeing berikutnya.
Mana Paket yang Tepat untuk Perusahaan?
Tidak ada paket yang otomatis paling baik untuk semua perusahaan. Jika perusahaan baru memulai, Starter dapat menjadi titik awal untuk membangun awareness. Jika perusahaan sudah memiliki aktivitas wellbeing tetapi ingin meningkatkan engagement dan dukungan antar karyawan, Growth dapat menjadi pilihan.
Jika perusahaan ingin membangun sistem wellbeing yang lebih terintegrasi dengan akses professional support, Comprehensive dapat dipertimbangkan. HR juga dapat menggunakan hasil program sebelumnya sebagai dasar untuk menentukan level investasi berikutnya.
Jangan Menentukan Paket Hanya Berdasarkan Budget
Menentukan biaya program employee wellbeing hanya berdasarkan jumlah dana yang tersedia dapat membuat program kehilangan relevansi.
Sebaliknya, HR dapat menggunakan pendekatan:
Employee Needs โ Objective โ Program โ Budget โ KPI
Contohnya, jika employee survey menunjukkan bahwa karyawan membutuhkan dukungan untuk mengelola stres, perusahaan tidak harus langsung membuat banyak aktivitas. Program dapat dimulai dari edukasi mengenai stress management, dilanjutkan dengan check-in, wellbeing activity, kemudian akses psychological support bagi karyawan yang membutuhkan.
Pendekatan berbasis kebutuhan juga membantu perusahaan menghindari program wellbeing yang sekadar ramai di awal tetapi tidak memiliki tindak lanjut. SHRM mencatat bahwa pada 2025 hanya 39% organisasi yang menyediakan wellness programs with resources, turun dari 53% pada 2021. SHRM juga menekankan bahwa rendahnya engagement menjadi salah satu tantangan dalam implementasi program wellness. Artinya, memiliki program belum tentu sama dengan memiliki program yang efektif.
Apa yang Perlu Diukur dari Program?
Agar budget employee wellbeing dapat dipertanggungjawabkan kepada management, HR perlu menentukan KPI sejak awal.
1. Participation Rate
Berapa persen karyawan yang mengikuti program?
2. Satisfaction
Bagaimana penilaian peserta terhadap program?
3. Relevance
Apakah topik dan aktivitas sesuai dengan kebutuhan mereka?
4. Engagement
Seberapa aktif karyawan terlibat selama program?
5. Support Utilization
Jika perusahaan menyediakan psychological support atau counseling, berapa banyak karyawan yang memanfaatkannya?
6. Employee Insight
Kebutuhan wellbeing apa yang muncul dari feedback peserta?
KPI tersebut membantu HR berpindah dari pertanyaan โberapa banyak budget yang sudah digunakan?โ menjadi:
โApa value yang dihasilkan dari investasi wellbeing ini?โ
Employee Wellbeing sebagai Investment, Bukan Sekadar Aktivitas
Employee wellbeing tidak harus selalu dimulai dengan program besar. Program yang sederhana tetapi relevan dapat memberikan value lebih besar daripada aktivitas yang mahal tetapi tidak sesuai kebutuhan karyawan. WHO merekomendasikan pendekatan yang mencakup pencegahan risiko kesehatan mental, promosi kesehatan mental, serta dukungan bagi pekerja yang mengalami kondisi kesehatan mental. Karena itu, perusahaan dapat membangun program secara bertahap.
Starter โ Growth โ Comprehensive
Bukan berarti perusahaan harus selalu naik ke paket paling besar. Perkembangan program sebaiknya mengikuti kebutuhan karyawan, hasil evaluasi, dan strategi people perusahaan.
Bangun Program Employee Wellbeing Bersama WorkMe
WorkMe by Ibunda.id dapat menjadi partner HR dalam merancang program wellbeing sesuai kebutuhan perusahaan, mulai dari mental health education, wellbeing activities, psychological support, hingga counseling. Pendekatan tersebut memungkinkan HR tidak hanya membeli sebuah aktivitas, tetapi menyusun program wellbeing karyawan yang memiliki objective, cakupan, dan evaluasi yang jelas.
Untuk perusahaan yang sedang menyusun budget employee wellbeing, langkah pertama bukan menentukan aktivitas yang paling mahal. Langkah pertama adalah memahami kebutuhan karyawan dan outcome yang ingin dicapai. Dari sana, budget dapat diterjemahkan menjadi program yang lebih relevan, terukur, dan memiliki value bagi karyawan maupun perusahaan.