Powered by WorkMe Logo

Istilah quiet quitting banyak digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika karyawan tetap menjalankan tanggung jawab sesuai pekerjaannya, tetapi tidak lagi menunjukkan keterlibatan atau usaha ekstra seperti sebelumnya. Quiet quitting bukan berarti karyawan benar-benar berhenti bekerja. Mereka tetap hadir, menyelesaikan tugas, dan memenuhi tanggung jawab sesuai perannya. Namun, keterlibatan, inisiatif, atau antusiasme terhadap pekerjaan dapat mengalami perubahan. Bagi HR, kondisi ini perlu dilihat sebagai sinyal untuk memahami pengalaman karyawan, bukan sekadar sebagai masalah performa.


Apa Penyebab Quiet Quitting?

Tidak ada satu penyebab yang berlaku untuk semua karyawan. Beberapa faktor yang dapat berkontribusi antara lain:

1. Beban Kerja yang Tidak Seimbang

Ketika karyawan terus-menerus menghadapi workload tinggi tanpa dukungan atau pemulihan yang cukup, mereka dapat mengalami kelelahan dan mulai membatasi energi yang diberikan untuk pekerjaan.

2. Kurangnya Apresiasi

Karyawan dapat kehilangan engagement ketika kontribusi dan pencapaian mereka tidak mendapatkan pengakuan yang memadai.

3. Kurangnya Perkembangan Karier

Minimnya kesempatan belajar, berkembang, atau mendapatkan tanggung jawab baru dapat membuat karyawan merasa tidak memiliki arah jangka panjang dalam pekerjaannya.

4. Hubungan dengan Atasan

Manager memiliki pengaruh besar terhadap employee experience. Komunikasi yang buruk, ekspektasi yang tidak jelas, atau kurangnya dukungan dapat memengaruhi engagement karyawan.

5. Tidak Adanya Work-Life Balance

Ketika pekerjaan terus masuk ke kehidupan personal, karyawan dapat merasa perlu membatasi keterlibatan mereka untuk menjaga energi dan kehidupan di luar pekerjaan.


Apa yang Bisa Dilakukan HR?

1. Jangan Langsung Menganggap Quiet Quitting sebagai Masalah Performa

Langkah pertama adalah memahami konteksnya.

Karyawan yang bekerja sesuai job description tidak otomatis berarti tidak engaged. HR perlu melihat apakah terdapat perubahan dibandingkan sebelumnya dan apakah perubahan tersebut terjadi secara individual atau pada banyak karyawan.

2. Lakukan Employee Listening

Gunakan employee survey, engagement survey, pulse survey, atau regular check-in untuk mengetahui pengalaman karyawan.

Pertanyaan dapat diarahkan pada workload, hubungan dengan manager, career development, recognition, dan wellbeing.

Data tersebut dapat membantu HR menemukan pola dan menentukan intervensi yang lebih tepat.

3. Evaluasi Workload dan Manpower

Jika quiet quitting muncul karena kelelahan, menambah aktivitas engagement belum tentu menjadi solusi.

HR perlu melihat apakah workload sesuai dengan kapasitas tim, apakah prioritas sudah jelas, dan apakah terdapat kebutuhan tambahan manpower.

4. Perkuat Peran Manager

Manager perlu dibekali kemampuan untuk melakukan check-in, memberikan feedback, mengenali perubahan perilaku, dan mendiskusikan hambatan kerja bersama anggota tim.

Employee engagement tidak hanya dibangun melalui program HR, tetapi juga melalui pengalaman sehari-hari bersama atasan.

5. Ciptakan Jalur Pengembangan yang Jelas

Karyawan perlu memahami bagaimana mereka dapat berkembang di dalam organisasi.

Career conversation, learning program, mentoring, dan kesempatan mengambil tanggung jawab baru dapat membantu menciptakan rasa memiliki terhadap perjalanan karier mereka.

6. Sediakan Dukungan Employee Wellbeing

Engagement tidak dapat dipisahkan dari wellbeing. Ketika karyawan menghadapi tekanan personal atau pekerjaan, perusahaan perlu menyediakan akses terhadap dukungan yang sesuai.

Program seperti konseling, mental health education, dan Employee Assistance Program (EAP) dapat menjadi bagian dari strategi employee wellbeing perusahaan.


Bagaimana Mencegah Quiet Quitting?

Pencegahan tidak cukup dilakukan ketika tanda-tandanya sudah muncul. HR dapat membangun sistem yang secara rutin memantau employee experience.


Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah melakukan pulse survey secara berkala, mengevaluasi workload, memperkuat komunikasi manager, menyediakan career development, serta memastikan karyawan mengetahui akses terhadap program wellbeing.

Dengan begitu, HR tidak hanya bereaksi ketika engagement menurun, tetapi dapat mengidentifikasi masalah lebih awal.


Quiet Quitting sebagai Sinyal untuk HR

Quiet quitting dapat menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk melihat kembali bagaimana karyawan mengalami tempat kerja mereka. Daripada hanya berfokus pada bagaimana membuat karyawan โ€œbekerja lebih kerasโ€, HR dapat mengevaluasi pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah karyawan memiliki alasan untuk tetap engaged, berkembang, dan merasa didukung di tempat kerja? Pendekatan ini membantu perusahaan membangun employee experience yang lebih berkelanjutan.


Bangun Employee Wellbeing Bersama WorkMe

WorkMe membantu perusahaan membangun program employee wellbeing yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan karyawan, mulai dari edukasi, dukungan mental health, hingga Employee Assistance Program.

Ingin mendiskusikan kebutuhan employee wellbeing di perusahaan Anda?


Hubungi WorkMe melalui Contact Us untuk mengetahui solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Anda.

Kontak Kami